Seorang ukhti berkata, “Amanah adalah satu bentuk penjagaan dari Allah”. Entah dimana aku tanpanya..

Setiap saat aku menyerah mundur, sekian banyak akan siap menggantikan dgn lbh baik. Karena aku memang bukan siapa2. Tapi aku tak mau terpuruk di belakang ataupun tersesat tak tentu arah. Karena ini pilihan, ini komitmen, lebih dari itu, ini integritas. Integritas saya. Integritas di atas integritas.

Suatu saat waktu akan membuktikan bahwa perjalanan ini memang bukan utk orang2 yg setengah2 hatinya. Jika bukan karena Dia yg begitu luas pengampunannya, tentu sudah sejak lama aku menyerah atas “sesuatu-you-know-what” yg msh ditangguhkan, menikmati yg msh bisa dinikmati, tenggelam dalam kelam dunia. Jika bukan karena besar cintaNya, tentu sudah sejak lama dan selamanya aku menjadi pecundang.

Aku disini saat ini karena dipilih, dan semoga hingga ajal nanti. Semoga terus menjadi salah satu dr sekian bnyk yg terpilih utk menjadi batu bata pembangun peradaban yang dinanti-nanti. Walau jd pondasinya, atau lantainya, tiangnya, atapnya, apapun..

“Hidup adalah pilihan.
Selama nafas masih dikandung badan, kesempatan utk memilih akan selalu ada.
Tapi hal yang seringkali kita lupakan adalah, selalu ada konsekuensi yang tak bisa ditawar dari setiap pilihan.
Dan masih ada mati yang merupakan konsekuensi yang ditangguhkan. ”

Posted with WordPress for BlackBerry.

“Tau apa saja yang harus dikorbankan dalam dakwah?”
“…”
“Gimana mba, tau ga?”
“Ya.. Hm.. Tau sih.. “, meremas-remas jari tangan sendiri.

Sudah hampir 7 tahun sejak aku ‘kenalan’ dengan dunia dakwah. Namun tetap saja lidah ini kelu. Apa yang telah aku korbankan? *Padahal bukan itu yang ditanyakan si penanya* Nyaris 6,5 tahun, kemana aja gue??
Justru masih begitu banyak list kenikmatan yang belum aku syukuri.
Justru masih begitu banyak list amanah yang tidak aku kerjakan dengan maksimal.
Ya Allah..

Posted with WordPress for BlackBerry.

Rehat panjang adalah masanya kontemplasi diri.
Di sini terasa bahwa perjalanan hidup bukanlah dunia, yang selalu berputar di tempat yg sama.

Kita mencari ke gunung, ke lembah, bermimpi ke ujung dunia.
Sesuatu yg hilang terlupakan hanyut ditelan ombak dunia.
Jika tak mencari lagi, berdiam saja di sini hingga nanti tinggal melebur jadi tanah.

Kadang kususuri belantara tanpa ujung hingga telaga tak berdasar yang tak kutemukan wajahku di pantulannya.
Kadang kutenggelam dalam samudera tinta merah dan kurindui Ia dalam sujud-sujud panjangku.
Kadang kubiarkan saja aku melayang dalam rona kelabu hingga tercium busuknya udara yang terjebak terlalu lama ditambah bau diriku sendiri.
Dan kini aku di sini, bermain di taman hatimu, berenang di bening telaga matamu, dan
ah.. samar kutemui wajahku di sana.

Ukh, I wanna meet u again.

SidS
Depok, 23.00 wib 060911

Posted with WordPress for BlackBerry.

Remaja didefinisikan sebagai orang yang mengalami masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Menurut WHO, batasan usianya adalah 19-24. Sedangkan menurut Departemen Kesehatan, batasan usianya adalah 10-19, dan belum kawin. (Depkominfo RI, 2005) Pada masa remaja, seseorang mengalami perubahan fisik dan mental. Selain fisiknya bertambah besar, tubuh mereka juga mengalami proses pematangan alat seksual. Tubuh mereka memproduksi hormon yang merangsang hasrat seksual. Akibatnya, mereka mengalami masalah mental untuk menahan rangsangan tersebut. Selain masalah seksual, remaja juga mengalami proses pencarian jati diri. Pada masa ini, remaja mulai berpikir kritis terhadap pentingnya akhlak dan budi pekerti. Termasuk akhlak dan budi pekerti dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Jika mereka menganggap pendidikan akhlak dan budi pekerti tidak penting, maka mereka tidak akan menghiraukannya. Akibatnya, seks bebas menjadi marak di kalangan remaja. Oleh karena itulah, pendidikan akhlak dan budi pekerti, terutama terkait pendidikan seks, menjadi penting untuk remaja. Pendidikan akhlak dan budi pekerti ini perlu dijelaskan dengan pendekatan yang filosofis dan rasional.

 

Rahmat Djatnika dalam Sistem Etika Islam mengutip pendapat Ibnu Miskawaih, Al Gazali, Dan Ahmad Amin tentang akhlak. Akhlak adalah perangai yang melekat pada seseorang yang memunculkan perbuatan baik tanpa mempertimbangkan lebih dulu. Sedangkan budi pekerti adalah perpaduan dari hasil rasio dan rasa yang bermanifestasi pada karsa dan tingkah laku. (Zakky Mubarak dkk, 2010: 19-20) Oleh karena itu, selain menggunakan perasaannya, orang yang memiliki budi pekerti akan menggunakan rasionya sebelum melakukan suatu perbuatan.  Pendidikan seks adalah pendidikan terkait kehidupan seks yang baik. (Depkominfo RI, 2005).

 

Pendidikan akhlak dan budi pekerti perlu diajarkan sejak anak-anak sehingga pengetahuan mereka dapat menjadi benteng saat mencapai masa pencarian jati diri. Pendidikan akhlak dan budi pekerti yang paling penting berasal dari lingkungan primer yaitu keluarga. Selain dari keluarga, pendidikan akhlak dan budi pekerti yang juga patut diperhitungkan, terutama pendidikan seks, adalah dari sekolah. Namun, menurut pengalaman penulis, pendidikan akhlak dan budi pekerti yang didapat dari sekolah sangatlah minim.

 

Saat SD yaitu pada tahun 2002-2003, penulis hanya mendapatkan pendidikan kesehatan alat reproduksi tanpa pendidikan seks pada saat kelas 6 SD, sehingga pergaulan antara anak-anak laki-laki dan perempuan tidak ada batasannya. Saat kelas 3 SMP, penulis hanya mendapat pendidikan seks selama satu jam pelajaran dari guru Bimbingan dan Konseling. Saat itu, sang guru hanya menjelaskan batasan interaksi antara lelaki dan perempuan dari perspektif agama dan sosial budaya tanpa menjelaskan mengapa remaja perlu memperhatikan batasan-batasanPadahal, jika tidak ditangani dengan baik, masalah seks adalah masalah yang sangat mengganggu perkembangan mental remaja. Oleh karena itu, sekolah perlu memberikan pendidikan seks lebih mendalam, terutama dari aspek akhlak dan budi pekerti. Pendidikan akhlak dan budi pekerti terkait seks tersebut dapat diberikan dari perspektif rohani, afeksi, citra diri, dan lain-lain.

 

Perspektif rohani memperlihatkan bahwa sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, manusia dianugerahi akal dan hati. Oleh karena itu, manusia yang beriman pada Tuhan Yang Maha Esa harus bersyukur dengan cara berpikir dan berperasaan yang baik. Saat melakukan seks bebas, manusia berarti telah berperilaku layaknya hewan karena tidak mempertimbangkan kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan, yaitu rusaknya kehidupan lahir dan batin serta dunia dan akhirat. Padahal, manusia yang beriman dan bertakwa merupakan perwujudan dari manusia paripurna yang memiliki keseimbangan lahir dan batin, dunia dan akhirat. (Irmayanti Meliono dkk, 2010: 86). Oleh karena itulah, pendidikan agama dibutuhkan sebagai benteng dari seks bebas.

 

Pendidikan seks dari perspektif agama misalnya menanamkan rasa malu sejak dini dengan tidak memakai pakaian yang buka-bukaan. Walaupun masih kecil, jangan biarkan anak bertelanjang di depan orang lain. Kemudian pisahkan tempat tidur anak lelaki dan perempuan sejak usia 7-10 tahun. Dengan begitu, anak manyadari sejak awal eksistensi dari perbedaan jenis kelamin sehingga akan menjaga interaksi dengan lawan jenis. Berikutnya ajarkan menjaga kebersihan alat kelamin. Jika sejak kecil anak diajarkan untuk hidup bersih, ia akan menyadari bahwa seks bebas adalah perbuatan kotor sehingga enggan melakukannya. Selain itu, ajarkan anak untuk menjaga pandangan. Jauhkan anak-anak dari bacaan dan tontonan yang mengandung unsur porno. Agama juga mengajarkan untuk tidak mendekati zina atau seks bebas. Salah satu penerapannya adalah dengan tidak berduaan di tempat sepi. Kemudian ajarkan juga untuk tidak masuk ke kamar orangtua kecuali minta izin terlebih dahulu. Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan anak memergoki orangtuanya sedang melakukan kegiatan seksual ataupun kegiatan orang dewasa lainnya. (“Pendidikan Seks untuk Anak”, 2010)

 

Perspektif afeksi dalam pendidikan seks adalah untuk mengingatkan bahwa mencintai diri sendiri dan lawan jenis adalah fitrah manusia. Saat seseorang melakukan seks bebas, ia bukan hanya merusak dirinya sendiri tetapi juga pasangannya. Kerugian yang mengancam diantaranya penyakit kelamin dan reputasi yang rusak. Biasanya yang menanggung kerugian terbesar adalah perempuan karena hilangnya keperawanan seorang perempuan mudah terdeteksi. Selain itu, jika ia hamil, maka anaknya biasanya tidak akan bernasib baik. Jika hamil di usia yang belum mencukupi, maka kehamilan tersebut juga dapat membahayakan sang ibu. Menurut BKKBN, usia ideal untuk hamil dan melahirkan adalah 20-30, usia diluar itu adalah berisiko (Depkominfo RI, 2005).

 

Perspektif citra diri berhubungan erat dengan akhlak dan budi pekerti. Citra diri yang baik misalnya tanggung jawab, sopan santun, kejujuran, komitmen. Seseorang dengan citra diri yang baik akan dihormati oleh orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya, seseorang dengan citra diri yang buruk tidak akan dihormati oleh orang-orang disekitarnya, hubungan sosialnya akan berjalan dengan kurang harmonis, bahkan orang-orang dapat mengucilkannya. Jika seseorang ketahuan melakukan seks bebas, maka citra dirinya akan hancur, masa depannya pun akan suram.

 

Dari tulisan ini dapat disimpulkan bahwa pendidikan akhlak dan budi pekerti terkait pendidikan seksual perlu diberikan sekolah sejak dini. Jika pendidikan akhlak dan budi pekerti diberikan sejak dini, maka anak akan lebih siap menghadapi proses perkembangan fisik dan mentalnya saat masa remaja datang. Bagi remaja, pendidikan akhlak dan budi pekerti sebisa mungkin dilakukan dengan pendekatan filosofis dan rasional karena, di masa remaja, seseorang mulai berpikir kritis terhadap ilmu yang diterimanya.

 

Daftar Pustaka

 

Buku:

Mubarak, Zakky, dkk., Mata Ajar Pengembangan Kepribadian Terintegrasi (MPKT): Buku Ajar II Manusia, Akhlak, Budi Pekerti, dan Masyarakat (Depok: Fakultas Kedukteran Universitas Indonesia, 2010)

 

Internet:

“Pendidikan Seks untuk Anak” Forum Silaturahmi Minggu Legi Manfaat Dunia Akhirat http://www.fosmil.org/index.php/blog/show/%E2%80%9C-Pendidikan-Seks-untuk-Anak-%E2%80%9C.html (18 Oktober 2010)

Departemen Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, “Dampak Sex Bebas” Scribd http://www.scribd.com/doc/14322262/Makalah-Dampak-Sex-Bebas (17 Oktober 2010)

 

 

Itu katanya Soe Hok Gie. Saya ga tau maksudnya karena saya buka politikus, bukan juga pengamat politik, dan yang jelas bukan tikus. Tapi saya tau tentang t*i kucing, secara saya sudah satu tahun lebih pacaran sama kucing melihara kucing. Wow, udah 1 tahun lebih! Terharu T.T. T*i kucing sehat itu bentuknya harus pulen. Jika terlalu keras, bisa jadi itu pertanda kucing Anda kurang minum atau tidak cocok dengan makanannya. Jika terlalu lembek alias m*ncret, penyebabnya bisa bermacam-macam seperti stress, makanannya tidak cocok, atau bahkan cacingan. Oke kaya’nya ini ga ada hubungannya sama sekali sama politik. Tapi bukan bentuk t*i yang mau saya bicarakan, melainkan bagaimana t*i tersebut menumpuk di mana-mana dan merusak suasana.

Pada dasarnya, t*i kucing itu adalah benda yang sangat penting. Tanpa kehadirannya, itu pertanda bahwa kucing Anda mengalami sakit gawat. Tapi, t*i tetaplah t*i. Jika tidak ada yang sudi mengurusnya, maka ia akan bertebaran di mana-mana, menumpuk, dan menjadi penyakit. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk memelihara kucing, seseorang harus mengerahkan tekad dan keahliannya. Ia harus bisa merawat kucingnya dengan baik, dan di sisi lain ia juga harus bisa menjaga kebersihan dan kesehatan dirinya sendiri dengan baik. Jika ia nekat memelihara kucing tanpa menyadari kemampuannya sendiri, maka bukan hanya dirinya sendiri yang terancam penyakit tetapi juga seluruh penghuni rumah.

Bahaya tersebut sudah saya alami sendiri. Kami sekeluarga pergi berlibur dan Choco ditinggal sendirian di rumah. Karena bak pasirnya sudah penuh dengan t*i, mulailah ia menjelajah seisi rumah dan membuat ranjau membuang hajat di mana-mana.

Hmm.. kalau saya pikir-pikir, sepertinya politik memang agak mirip dengan t*i kucing. Sekarang kamu nilai aja sendiri, politik Indonesia itu t*i kucing yang tertutup rapi dengan pasir atau t*i kucing yang jadi ranjau di mana-mana dan “harum semerbak”. Kalau kondisinya yang kedua, kok bisa ya orang-orang santai aja hidup berdampingan dengan tumpukan “t*i kucing” yang mulai menggunung tanpa berusaha membersihkannya. Kok saya nyindir diri sendiri yaa.. -_-”

Pecinta sastra religi pasti tak asing dengan cerpen berjudul ‘Robohnya Surau Kami’. Cerpen karya Ali Akbar Navis ini menceritakan tentang seorang penjaga surau yang terkenal sebagai ahli ibadah yang taat. Sayangnya, ia tak terlalu suka berinteraksi dengan masyarakat sehingga tidak ada regenerasi yang baik dalam kepengurusan surau. Surau terbengkalai begitu saja dan nyaris ambruk karena dijadikan tempat bermain anak-anak dan bahkan kayu-kayu yang merupakan bagian dari bangunan surau banyak dicuri oleh para ibu-ibu. Kisah ini berakhir tragis dengan bunuh dirinya si penjaga surau karena dianggap egois karena hanya peduli pada amalan dirinya sendiri.

Kisah ini adalah kisah fiksi yang diceritakan dengan latar belakang sebuah desa terpencil. Di sini, di sebuah kampus di pusat kota yang katanya berbudaya, ada kisah nyata seputar mushola di dalam kampus tersebut. Suatu hari, ada beberapa mahasiswi muslimah yang asik berbincang-bincang.

“Lo anak DKM ya?”

“yoi donk!”

“Tugasnya ngapain? Jadi tukang bersih-bersih mushola ya?”

“Ih enggak kok, bersih-bersihnya sebulan sekali doank”

“Tuh kan bener, tukang bersih-bersih mushola!”

Sontak mereka berjamaah menertawai si anak DKM.

Sepertinya sekarang saya mengerti kenapa cerpen ‘Robohnya Surau Kami’ begitu melekat di hati banyak orang. Setelah sekian lama tulisan itu dipublikasikan, kisahnya masih saja relevan hingga saat ini. Jika dalam cerita tersebut surau itu benar-benar roboh, dalam kisah nyata sebuah masjid yang berdiri kokoh bisa saja roboh dan luput dari perhatian orang-orang. Padahal, masjid, mushola, surau, atau apapun itu sebutannya adalah rumah Allah. Bukankah itu artinya semua yang mengaku hamba Allah wajib merawatnya? Penjaga masjid, anak DKM, atau siapapun..

CMIIW @.@

Imam syahid Hasan Al Banna mengatakan,

Ketahuilah, kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia, MAKA bantulah saudaramu untuk menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya DAN jika anda punya kepentingan atau tugas selesaikan segera”.

Ini redaksi yang dulu saya dengar pas jaman masih bocah dan sampe skrg tetep bocah =_=”. Entah kenapa, orang-orang sering memotong pesan tersebut hingga bunyinya tinggal “Ketahuilah, kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia”. Padahal, menurut saya, poinnya ada di belakang deh. Ada dua poin di sana :

  • saudaramu
  • dirimu sendiri

CMIIW @.@

Selamat datang!

Ini adalah blog baru saya, pindahan dari sidhanimuth.wordpress.com

Terimakasih telah bertandang.

Saya tunggu kesan pesan kritik saran cendol dari kamu sekalian. :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers