Belum pula terbakar, kau sudah coba hanguskanku
Kau pasti bukan kau
Aku ingin kau bukan apimu
Aku pasti bukan aku
Aku ingin aku bukan lilinku
Tolong biarkan api bakar lilin jauh di sana
Tapi bukan kau dan aku

Bisa jadi kau, tapi bukan kau
Biar Kau saja yang membakarku habis
Hingga membara
Bara yang tak bisa terbakar lagi
Hingga terbakar lagi olehmu
Kali itu bunga apinya memercik meletik meliuk
Seperti tak pernah sebelumnya

Tolong beri aku kesempatan

Dia malu-malu kucing
Ditambal sulam dengan hati-hati
Dia iseng-iseng kucing
Dibongkar pasang tanpa maksud
Dia cerdik-cerdik kucing
Ditarik ulur dengan sengaja

Apa Saudara cukup bernyali?

 

Manusia itu buta akan wajahnya sendiri. Buta sebuta-butanya. Satu-satunya cara untuk melihat bentuk rupanya adalah dengan bercermin. “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.” Cermin yang bening itu sungguh mahal harganya. Ia tulus menampilkan keindahanmu agar kau menjaganya baik-baik dan memaksimalkan potensi yang telah Allah karuniakan padamu. Tapi ia juga tak meninabobokkanmu dalam mimpi-mimpi palsu, menyadarkanmu pada kenyataan sepahit apapun itu. Walaupun begitu, tak hentinya ia mengajakmu, di belakangmu ada dunia yang membentang luas kawan, ada banyak jalan bagimu memperbaiki diri, dan meraih kebaikan lebih banyak lagi. Seperti apapun dirimu, siapapun dirimu.

 

Cermin sebening itu.. Sungguh langka, sungguh mahal bukan harganya?

 

Teman yang dengan berbesar hati memberanikan diri menegur dengan keras kesalahan-kesalahan kita saat sedang hanya berdua, tetapi tak membicarakan saat di belakang, bahkan membela jika sanggup. Itu jauh lebih patut dicintai daripada teman yang asik-asik aja melihat najis kecil di dahi kita, tak memberitahu kita, tapi kemudian membicarakannya pada dunia, baik secara implisit ataupun eksplisit.

Image

Aku percaya, meyakini dari hati yang terdalam, dengan segenap pikiran sadar: Bahwa perkataan itu tergolong sebuah nasihat atau hinaan, kritik atau cacian, tegas atau sinis, yang menentukan batasan antara itu semua hanyalah sudut pandang pendengarnya. Maka, sahabat, tegurlah aku agar aku makin mencintai dirimu. Katakanlah sejujurnya. Dan doakanlah agar aku kuat menerima teguranmu. Dan semoga dengan itu aku dapat menemukan cara memantaskan diriku untuk dicintai.

Biar saja orang bilang aku bodoh.. Aku masih ingin percaya..
Aku masih ingin percaya bahwa prasangka-prasangka burukku padamu itu salah..
Biar saja orang bilang aku bodoh.. Aku masih ingin percaya..

Kau seakan bahagia, kau seakan baik-baik saja, kau tunjukkan hidupmu yang sempurna..
Dan orang-orang iri padamu..
Kau seakan tak peduli..
Tapi..
Masihkah kau rasakan?
Masihkah kau rasakan sejuknya gemericik air wudhumu..
Masihkah kau rasakan tenangnya sujud-sujud panjangmu..
Masihkah kau rasakan merdunya lamat-lamat merapal firmanNya?
Masihkah kau rasakan kenikmatan-kenikmatan yang takkan terganti dengan kenikmatan duniawi macam apapun itu?
Masih?

Kau seakan tak peduli
Tapi aku tahu di lubuk hati yang paling mendalam kau pasti menderita..
Andai aku bisa, ingin kuminta beban dunia yang kau tanggung untuk dibagi denganku.
Tapi aku mengasihanimu, seperti juga aku selalu berduka atas diriku sendiri, bahwa beban akhirat harus ditanggung sendiri-sendiri.
Hati yang jauh dari-Nya adalah hati yang sakit, hati yang kesepian, hati yang nestapa, hati yang kebingungan, penuh luka. Hanya itu takdir untuk hati yang jauh dariNya.

Maka pulanglah..

Kau bisa kira aku kecewa, kau bisa kira aku marah, kau bisa kira aku benci, kau bisa kira aku terluka, kau bisa kira aku sakit hati.
Tapi aku insyaa Allah baik-baik saja.
Karena aku di sini..
Menantimu semata-mata karena Allah.
Sakit hati bisa disembuhkanNya. Luka fisik apalagi. Materi tinggal menjemput kirimanNya.
Allah menjalankan tugasNya dengan baik merawat setiap makhlukNya.
Tak usah khawatir.

Karena aku masih percaya..
Aku masih percaya, masih ada tempat di hatimu untukNya.
Musa AS dengan gigih mendakwahi Fir’aun, dan kau bukan Fir’aun.
Muhammad SAW dengan optimis mengharapkan hidayah untuk Abu Jahal, dan kau bukan Abu Jahal.
Nuh AS tak mundur disakiti keluarganya sendiri, dan kau bukan keluarga Nuh AS.
Padahal hati kecil mereka paham, mereka percaya kuasaNya, tapi mereka tak mau tahu.
Dan aku percaya, kau bukan mereka. Kau berbeda dengan mereka.

Maka pulanglah..

Pulanglah dengan segala yang kau punya, pulanglah dengan mengais sisa tenaga yang kau punya, pulanglah walau merangkak, pulanglah walau dengan merayap, pulanglah walau dengan menggeliat seperti ulat, pulanglah walau tak ada lagi yang tersisa, tak ada yang perlu ditakuti, tak ada yang perlu membuatmu malu, kita semua telanjang di hadapanNya..

Hadapilah..

Dan biarkan Dia yang selesaikan apa yang tak sempat kau selesaikan..
Biarkan Dia yang sembuhkan apa yang tadinya tak kunjung sembuh..
Biarkan Dia hadapi apa yang tak kuasa kau hadapi..
Dia yang pikul apa yang tak sanggup lagi kau tanggung..
Maka pulanglah dan ketuk pintuNya sebelum semuanya terlambat..

Karena aku percaya..

Selama hayat masih di kandung badan aku ingin terus percaya

Selalu ada jalan pulang..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pulanglah Saudaraku sayang..

Mari pulang bersamaku..

Image

Jangan takut pada waktu.

Sejatinya waktu tak berubah,

24 jam sehari,

365 atau 366 hari setahun.

Kemarin adalah kemarin,

sekarang adalah sekarang,

besok adalah besok.

Milikmu adalah sekarang, bukan tadi, bukan nanti. Sama saja dengan milik Adam bukan?

Jangan takut sayangku, kesempatan itu masih ada, masih sama. Selama hayat masih di kandung badan.

 

Memang di alam semesta ini tak ada yang abadi, kecuali jika Ia yang menciptakan ketidakabadian itu hendak mengubah ketidakabadian menjadi keabadian.

Tapi sungguh hanya satu makhluk yang tak konsisten,

tak bisa setia,

punya seribu topeng,

hipokrit,

korupsi,

nepotisme,

selingkuh,

busuk!

Konyol sekali,

di tengah megahnya sunyinya semesta raya,

ada keributan,

pertumpahan darah,

penghianatan,

perselingkuhan,

kegemparan!

Konyol memang, kekhidmatan semesta raya dinodai oleh makhluk setitik. MAKHLUK SETITIK.

 

Takkah kau lihat tanda zaman?

 

Di tengah hiruk-pikuk manusia dari Adam hingga Obama hingga nanti Dajjal dan Imam Mahdi, di tengah gemerlap dunia, di tengah haru-biru perjuangan yang belum tentu mereka tahu ujungnya, di tengah tragedi konspirasi, di tengah lautan manusia yang berpura-pura tahu ini dan tak tahu itu, di tengah kesemrawutan ini,

di tengah kebingungan ini,

 

takkah kau membuka mata?

 

Perhatikanlah hujan, masih sama dengan yang dulu, airnya merantau sampai langit hingga akhirnya kembali ke tanah.

Atau surya senja itu, masih sama dengan saat terbitnya, suatu saat akan kehabisan energi dan hanya menyisakan gumpalan partikel.

Perhatikanlah pohon yang telah menjadi perabot itu masih sama dengan bibitnya, tumbuhnya dari tanah, suatu saat akan tumbang dan lapuk jadi tanah jua.

Atau peliharaan kesayanganmu itu,

atau rumahmu,

atau mobilmu,

atau istrimu,

anakmu,

anak buahmu,

tanganmu,

kakimu,

tangan kananmu,

kaki tanganmu,

matamu,

mata-matamu,

semua yang kau banggakan,

semua yang kau jaga erat-erat,

semuanya,

semuanya dari tanah dan akan pergi ke tanah.

Hatimu pun masih sama. Hatimu sama dengan maling busuk dari zaman manapun, ataupun aktivis kemanusiaan dari zaman manapun, sama-sama gumpalan cokelat darah yang akan membusuk dimakan tanah.

Bahkan akhirat pun masih sama, hanya ada dua tempat, surga atau neraka. Tak pernah tiba-tiba ada surga yang keneraka-nerakaan, ataupun neraka yang kesurga-surgaan.

 

Tak kah kau membuka mata?

 Image

Semesta selalu sama,

semesta tak pernah berubah,

ia simbol kesetiaan,

ia pemuja sejati,

ia tak pernah ternodai,

ia “mewaktu” sebagaimana semestinya.

Ia selalu ada untuk mengingatkanmu, siapa yang sesungguhnya bertahta atas dirimu.

 

Sekarang, kau mau apa?

Manusia tuh gitu ya, ngakunya pasrah sama aturan Allah, tapi nanti kalo udah kebiasaan “menyerempet bahaya” dan “untung terus”, lupa deh sebenernya bahayanya dimana. Contohnya aja orang nyeberang jalan sembarangan. Karena udah sering ngelakuin (nyeberang jalan sembarangan) dan ga pernah kenapa-napa, ya ga akan berhenti tuh kebiasaan buruk. Emangnya harus ketabrak dulu ya baru kapok?

Betapa beratnya menyandang “gelar” aqil baligh. Selama 24 jam tiap waktunya diawasi tanpa terlepas sedetikpun. Boro-boro jadi status facebook, baru dalam pikiran aja sudah terawasi. Pikiran buruk sekecil apapun ketahuan. Itu tuh yang mengawasi, dua makhluk yang selalu nemplok di kiri-kanan kita. Dulu banget, pas pertama kali menstruasi, gue nangis semaleman karena takut mulai punya dosa. Tapi abis itu udah tuh, ga langsung tobat juga besok-besoknya. Lah nanti hari pertama di alam barzah mo nangis ampe kapan dah ihhhh…

Well, seberat-beratnya jadi orang baik, masuk neraka itu ya jauuuuh lbh berat lagi. Emang sih, walau udah berusaha keras jadi orang baik juga belum tentu bisa masuk surga. Tapi oh tapi, kalo pasrah aja untuk masuk neraka juga kok lagaknya kayak tau isi neraka aja. Emangnya kalo udah bener-bener liat neraka, ga bakal nyesel gitu udah pasrah aja? Anda yakin tidak akan menyesal? Yakin banget Han? troll-face-sticker_9ba2f_thumb_gal

 

 

 

Jadi, mo pasrah sama aturan Allah atau pasrah dicemplungin ke neraka?

*ngomong sama cermin*

Aku suka langit biru di hari cerah

Walau katanya itu artinya mentari panas menyengat

Aku suka seperti aku suka kucing lincah yang mengajakku bermain

Walau cakarnya bisa melukaiku, aku tak kan kapok

 

Aku suka guratan langit di hari hujan

Walau katanya itu dingin dan merepotkan

Aku suka seperti aku suka kucing tidur di pangkuan

Walau aku jadi tak bisa kemana-mana dan kadang kaki kesemutan, aku tak kapok

 

Karena hidup adalah rangkaian pilihan dan konsekuensi

 

Aku suka langit malam berbintang ataupun berawan

Tapi aku benci langit malam berwarna merah

Hei manusia! Kau selalu sibuk dengan hidupmu sendiri

Tengoklah langit dan dengarkan semesta berpesan

mengingatkanmu siapa sesungguhnya yang bertahta atas dirimuImage

Aku rindu..

Aku sangat rindu pada aktivis yang menabukan kata kecewa dari hatinya, apalagi bibirnya …

Karena kecewa adalah buah dari menaruh harapan tidak pada tempatnya.

Karena kecewa adalah menuding orang lain dengan telunjuknya tanpa menyadari bahwa keempat jari lainnya menunjuk pada dirinya sendiri!

Ternyata itulah mengapa kau begitu merindukan hujan membasuhmu..

Aku tak tau berapa hujan telah menyembunyikan air matamu..

Seperti kau tak tau berapa lapis bunker telah kubangun untuk berlindung dari hujan…

Andai hujan telah reda, kau bisa berteduh di dalam bunkerku, dan aku akan mencari jejakmu di tanah-tanah basah.

Dan ketika hujan kembali datang, kita akan kembali berpapasan. Mesra.

10.41PM
061112
@Pelni
Mood : menahan kesal

Adakalanya saat berhadapan dgn seseorang yg telah bertahun kukenal, biiisa aja tiba-tiba menerpa pikiran macam ini “Apa aku benar pernah mengenalmu, atau selama ini hanya halusinasi saja?”

Ya mana tau besok giliranku yg berubah? Berubahnya jadi apa ya juga ga tau.

Ada orang yang sepanjang hidupnya shalih, matinya khusnul khatimah.
Ada orang yang sepanjang hidupnya maksiat, matinya su’ul khatimah.
Pun ada orang yang sepanjang hidupnya shalih, tp matinya su’ul khatimah.
Ada jg yg sepanjang hidupnya maksiat, tp matinya khusnul khatimah.

Even the darkest heart is fragile. It’s easy for Allah to change it.

Abstrak, misterius bgt. Betapa beruntung mereka yg wara’ memiliki sebuah senjata pamungkas bernama “Do’a”. Kalian yang baca, do’ain saya donk biar jadi lbh baik dan khusnul khatimah. Semoga Allah membalasmu dgn hal yg sama, hey. Aamiin! ^^

August 2017
M T W T F S S
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2,262 other followers

%d bloggers like this: